Rabu, 01 Agustus 2012

Lelaki surau


Terdengar langkah tersaruk seseorang, nampaknya ia ingin mendahului fajar untuk tiba di suraunya. jarak rumahnya yang tak terlalu jauh dari surau itu terasa menjadi perjalanan panjang dan melelahkan. Jelas saja, hanya Mbah Dudung yang melakukannnya seorang diri, dengan langkahnya yang sudah tidak tegap lagi karena termakan usia. Namun apa daya, hanya Mbah seorang yang menghidupkan surau tersebut. Beliau merasa memiliki tanggung jawab atas rumah Allah tersebut.
Surau itu, tempat yang menurut Mbah Dudung mungkin tempat terindah. Walau hanya berdindingkan bilik dan hanya di sangga oleh kayu-kayu yang telah lapuk. Dan mungkin sebagian orang mengatakannya sudah tak layak, namun tetap dengan hati yang teguh nan setia, Mbah Dudung menjaganya. Membersihkan surau, menjadi muadzin, menjadi imam shalat itulah Mbah Dudung. Biasanya, setelah selesai membereskan Surau dan shalat tahiyyatul masjid, beliau langsung saja mengambil microfon bututnya untuk segera mengumandangkan adzan bila telah tiba waktunya shalat. Speaker mesjid itu, sudah berapa tahun umurnya, rasanya sudah sangat tua sekali, akan tetapi masih berfungsi untuk memanggil orang untuk shalat berjamaah di surau kecil tersebut. Namun entah kenapa, tak jarang panggilan tersebut di abaikan sama sekali, sekalinya ada yang mau shalat berjamaah di surau, hanya ada satu atau dua orang.
Inikah Globalisasi? Yang orang sebut awal kemajuan tekhnologi dan Informasi? Tekhnologi dan Informasi bisa saja maju akan tetapi yang Mbah Dudung rasa adalah penurunan Iman dan Taqwa warga kampung. Setelah ada televisi di kampung ini tak sedikit yang menjadi lalai dalam shalatnya, dan semakin menjamurnya televisi semakin jarang juga yang pergi ke surau untuk shalat berjamaah. Astagfirullah...
 Rasanya baru kemarin, ia dan dua anak lelakinya pergi ke surau bersama. Menghidupkannya dengan warna-warna dan semangat ibadah yang mereka miliki. mengajari anak-anak desa mengaji, shalat berjamaah itulah warna yang mereka berikan. Ketika kedua anak lelakinya tumbuh menjadi  remaja yang amat santun, menjadi lelaki surau sepeti ayahandanya mereka memutuskan untuk merantau, namun miris. Imran, sang kakak menjadi korban kecelakaan pada saat hendak merantau, sedangkan Furqan sang adik tak terdengar lagi kabarnya hingga sekarang. Jadilah, Mbah Dudung, lelaki tua itu, kini sendiri. Setelah lama ditinggalan oleh wanita pujaannya sejak melahirkan Furqan, Mbah Dudungpun harus merasakan betapa sulit menjadi Ayah yang sekaligus Ibu untuk kedua anaknya.
Segera Mbah Dudung melakukan shalat tahiyyatul masjid ketika sampai di surau temaram itu. hanya dengan di terangi lampu 5 watt surau itu bisa menyala, sedangkan banyak rumah-rumah warga yang telah memiliki penerangan lebih baik daripada itu, Ironis memang, namun inilah realitanya.
Khusyunya shalat Mbah Dudung akhirnya di akhiri dengan salam, lalu terdengarlah alunan Dzikir nan syahdu dari mulutnya. Ingatannya benar-benar sepenuhnya di isi oleh sang khalik mengingat betapa hidup ini fana dan hanyalah sandiwara belaka untuk kehidupan yang kekal di akhirat kelak.
“Astagfirullah” Mbah Dudung berkali-kali beristigfar, seraya menitikan air mata berharap ampunan Khalilknya di masa senja hidupnya.
****
“Apa hari ini kau dengar adzan subuh?” Ujar Pri kepada Ipul setelah meneguk kopi panasnya
“Engga mas, Biasanya kan yang adzan Mbah Dudung tapi gak tahu kemana beliau pagi ini” timpal Ipul
“Apa beliau sakit yah?” Selidik Pri,
“Tapi aku mendengar langkahnya tadi pagi, seperti biasanya. Aku yakin betul itu langkah Mbah Dudung orang tiap hari lewat rumahku kok kalau mau ke surau” Tri bergabung dalam perbincangan itu.
“Wah, kemana ya Si Mbah?” Pri dan semua yang di warung kopi menjadi penasaran
“Bagaimana jika lepas dzuhur kita tengok beliau, sekalian nanti kita shalat Dzuhur di surau” Saran Tri.
“Ide bagus, rasanya sudah lama yah aku tak pergi ke surau” Ujar Ipul bermuhasabah
“Hanya Si Mbah yang menghidupi surau, sendirian. Kasihan yah” Pri ikut bermuhasabah juga
“Malu aku, jarak rumahku lebih dekat ke surau daripada rumah Si Mbah” Tripun tak mau ketinggalan untuk bermuhasabah diri.
“Ah, Ayo ke Surau, Dzuhur sudah hampir menjelang” Kata Ipul. Di ikuti teman-temannya yang juga beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke surau. Setelah membayar kopinya masing-masing akhirnya mereka meniti langkah ke surau.
“Kok belum adzan juga yah? Harusnya dzuhur sudah masuk waktunya. Seperti biasa Si Mbah kan On Time” komentar Tri
“Tuhkan berarti bener Si Mbah sakit..” Kata Pri sok tahu. Ketiga pemuda tersebut lalu mempercepat langkahnya menuju surau.
“Astagfirullah” pekik Ipul saat memasuki pintu surau, membuat kedua konconya segera menghampiri Ipul yang nampak shock
“Ada ap.. Astagfirullah Mbah” Tripun begitu, sama kagetnya.
Si Mbah telah tergeletak di surau, bukan sakitlah yang membuat Mbah begini. Karena banyak darah di sekitar jenazah Si Mbah. Si Mbah tiada karena tertimpa kayu atap surau yang sudah amat lapuk.
“Inalillahi wa inna ilaihi rajiun” Desah Ipul, Mendekati jenazah pria paruh baya itu
“Insyaallah Si Mbah syahid” Lirih Tri
Tak bisalah menyalahkan rayap yang membuat kayu-kayu surau lapuk, Si Mbah kini tiada. Jenazahnyapun akan segera di semayamkan setelah warga sempat geger atas kematian Mbah Dudung ini. Tak ada yang bisa di salahkan, Allah sudah menggariskan Syahidnya Mbah Dudung, yang meninggal di Surau kesayangannya itu. Namun apakah setelah Mbah Dudung tiada adakah lagi penduduk desa yang mau peduli akan surau tersebut? Adakah yang hedak meneruskan tekad baik sang “lelaki surau”?
Betapa kita adalah manusia yang lalai, dan terkadang meremehkan perbuatan baik seseorang. Seperti Mbah Dudung ini, yang jasanya di abaikan. Astagfirullah..
Namun tak ada kata terlambat untuk berubah dan memperbaiki segala, untuk mulai menghargai orang lain dan jasa-jasanya atau mungkin membalas kebajikannya sedikit demi sedikit mungkin?  Karena perbuatan (meski) sebesar biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, Maka Allah akan mendatangkan balasannya (Luqman:16)

Yowis, thanks udah baca, monggo komen ceritanya, kritik saran ditunggu yah, buat Rafa yang masih pemula iniii.

And, the last,
 Happy Fasting , Happy Ramadhan 1433HJ